Sabtu, 24 Desember 2016

Sifat-sifat Dakwah



BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Dakwah sendiri yang kita ketahui artinya mengajak, mengajak umat menuju jalan kebenaran melaksanakan segala perintah Allah serta menjauhi segala larangannya, agar menjadi masyarakat yang madani.

Kegiatan dakwah merupakan kewajiban bagi orang islam, berdakwah bukan hanya dengan ceramah saja, tapi banyak cara untuk melakukannya bahkan media elektronik on-line seperti internet bisa menjadi media berdakwah bagi orang islam pada saat ini. Seiring dengan perkembangan zaman dan semkin berkembangnya tenologi mempengaruhi pola pikir manusia. Keadaan moralitas dari hari ke hari semakin tidak menentu baik segi moralitas dalam agama, sosial, ekonomi atau poliktik. Sudah menjadi keharusan bagi setiap orang islam untuk meluruskan moral yang sudah bergeser nilainya dengan cara berdakwa baik melalui lisan, tulisan dan alat atu media yang menunjang untuk berdakwah lainnya. Sehingga dengan berdakwah dapat memperbaiki moral dan keimanan individu, kelompok, atau masyarkat yang lebih luas.
Sifat-sifat dasar dakwah merupakan sebuah pondasi dasar untuk menjadi seorang pendakwah bagi orang-orang muslim yang telah mempunyai ilmu pengetahuan dalam dakwah sebagai sebuah aktivitas yang bertujuan menggerakkan akal, hati dan perasaan manusia agar bertindak selaras dengan aturan Allah merupakan satu kegiatan yang memerlukan banyak pertimbangan. Dalam makalah ini penulis akan membahas sifat-sifat dakwah, agar dalam menjalankan dakwah seorang dai akan lebih mengerti apa yang harus dilakukan serta mengerti sifat-sifatnya.






BAB II
PEMBAHASAN

A.        Dakwah Bersifat Fitrah Kemanusiaan.
Fitrah adalah suci, yaitu sifat manusia sejak lahir yang menjadikannya secara kodrati menerima kebenaran Islam. Al-Faruqi mendefisinisikan dakwah sebagai suatu ajakan atau panggilan kepada umat manusia untuk kembali kepada fitrahnya.Fitrah manusia dijelaskan Allah sebagai berikut:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا  فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا  لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ  ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
 “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus;tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS.ar-Rum:30).[1]
        
Lebih lanjut dia menjelaskan, Penemuan kembali Islam sebagai agama fitrah dan pandangannya tentang hal itu merupakan dasar bagi sejarah agama sebagai suatu pemecahan tentang sesuatu yang amat penting bagi hubungan antar agama. Dengan konsep agama sebagai fitrah, kita memandang mitra dakwah secara positif bukan secara negatif sebagai orang yang melupakan imannya kepada Allah. Kita memandang mereka memiliki potensi untuk kembali kepada keimanan yang telah diakui sewaktu masih dalam kandungan ibu yaitu alam azali,[2] sebuah pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah, Allah berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ  قَالُوا بَلَىٰ  شَهِدْنَا  أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah),ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhammu?”mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan Kami).Kami menjadi saksi”.(kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini(keesaan Tuhan)”.(QS.al-A’raf:172)[3]

Dakwah dengan mengembalikan manusia kepada fitrahnya tidak saja berlaku untuk orang non muslim, tetapi juga untuk orang muslim. Kepada orang non muslim, mereka kita ajak untuk menuju keimanan yang benar, dan kepada orang-orang muslim kita ajak meningkatkan keimanan. Muslim adalah orang yang telah mentekadkan dirinya untuk berada dalam jalan aktualisasi dakwah. Sedangkan orang-orang yang bukan islam masih menganggap dakwah sesuatu yang tidak benar. Karenanya, dakwah ditujukan bagi orang muslim untuk mengarahkan kejalan aktual dan bagi non muslim untuk mengajak bergabung sebagai orang yang mengejar pola ke Tuhanan yang benar.
Manusia sebagai mitra dakwah selalu dipandang sama baik sebagai muslim maupun non muslim, masing-masing memiliki hak untuk menerima dakwah. Islam tidak membedakan manusia dari etnis (kesukuan), bahasa, warna, kulit, dan aspek lahiriah lainnya. Dakwah berusaha menyebarkan dan meratakan rahmat Allah bagi seluruh penghuni alam raya, tanpa terkecuali. Dalam Islam manusia diukur kemuliannya dari sudut imannya, setiap orang bisa berubah atau bertambah, bisa pula berkurang, muslim bisa menjadi non muslim dan non muslim bisa menjadi muslim. Nabi tidak pernah memaksa orang non muslim untuk mengikuti Islam, tetapi beliau sangat tegas dalam memerintahkan para sahabatnya untuk mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.

  




B.        Dakwah Bersifat Persuasif-edukatif.
Persuasif artinya selalu berusaha mempengaruhi manusia untuk menjalankan agama sesuai dengan kesadaran dan kemauannya sendiri. Sedangkan dakwah yang bersifat edukatif adalah selalu berusaha mendidik manusia kejalan yang benar. Tetapi dalam hal ini seorang pendakwah memberikan pendidikan tidak bersifat memaksa.
Pada zaman Nabi ada seorang sahabat yang mengadukan anaknya yang beragama yahudi. Sang ayah mohon bantuan Nabi agar anaknya menjadi muslim bila perlu dengan paksaan. “Belahan diriku akan masuk neraka, wahai Rasulullah ?“ Kata penduduk Madinah tersebut. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, turunlah surat Al-baqarah ayat 256 tentang larangan paksaan beragama tersebut, yaitu:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam);Susungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah,maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuatyang tidak akan putus.Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.al-Baqarah:256)[4]

Dengan tidak adanya pemaksaan untuk mengikuti islam, maka tugas dakwah hanya sebatas memberikan pemahaman tentang kebenaran islam. Kita hanya mengajak mereka untuk berpikir, berdialog, dan berdikusi tentang islam. Disini diharapkan manusia menjadi sadar dan mengambil keputusan yang akan dikerjakan.
Jika mereka menolak dakwah dan mencibir ajaran islam, pendakwah tidak diizinkan menghakimi dengan sikap ataupun tindakan yang tidak simpatik. Tindakan demikian justru semakin menjauhkan mereka dari kebenaran islam. Mereka memiliki hak untuk memilih jalan hidup sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan itu. Pendakwah tidak perlu hanyut dalam kesedihan ketika dakwahnya ditolak mentah-mentah dengan sinis. Allah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 176:
وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا  يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; Sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (QS.Ali Imran:176)[5]

C.        Dakwah Bersifat Pembebasan
Dakwah bersifat pembebasan artinya bersifat bebas. Ajakan-ajakan bisa dilakukan terhadap muslim maupun non muslim dan pembebasan disini juga bahwa umat tidak dipaksakan untuk harus menerima ajakan dakwah tetapi Allah telah menegaskan untuk selalu mematuhi perintahnya dengan mengikuti ajran-ajaran dakwah manusia dapat terbebas dari hal-hal yang akan membawanya kejalan yang salah manusia akan lebih baik lagi untuk menjalani hidupnya didunia dan mempersiapkan bekalnya di akhirat nanti.

D.        Dakwah Bersifat Kasih Sayang.
Dakwah bersifat kasih sayang berarti dakwah memiliki sifat sabar dan lemah lembut, dakwah disampaikan dengan lemah lembut dan tutur bahasa yang halus. Manusia yang pada dasarnya hatinya keras jika mendengar ajakan-ajakan yang dituturkan dengan bahasa yang lembut, hatinya agar tergerak untuk menjadi lebih baik lagi. Sikap saling menghormati dan mengasihi semua makhluk ciptaan Allah akan terwujud dalam keluarga maupun lingkungan. Seorang pendakwah juga harus menyampaikan kepada mitra dakwah sesuatu yang diajarkan dengan kasih sayang jangan memaksa dan jangan memaki apabila ada seseorang yang menolak ajakan dari dakwahnya tersebut.[6]

E.         Dakwah Bersifat Perdamaian
Perdamaian berarti tenang dan aman, jika dakwah telah mengantarkan umat manusia menjadi umat yang berakhlak, maka seluruh alam semesta akan merasakan kedamaian. Dalam Al-Qur’an dakwah merupakan usaha meratakan rahmat bagi semesta alam, Nabi hanya diutus untuk metebarkan rahmat tersebut kepada seluruh makhluk khususnya manusia dari berbagai jenis dan agama. Jadi jika umat telah terbuka hati dan fikirannya dari dakwah-dakwah yang ada maka perdamaian pun akan berdiri didunia.[7]

F.         Dakwah Bersifat Berangsur-angsur
Agar berhasil, dakwah Islam dilakukan secara berangsur-angsur dan sedikit demi sedikit. Hal itu sesuai dengan fitrah manusia yang tidak mampu menerima berbagai pengajaran yang diberikan dalam satu waktu dan seketika itu juga. Sebagai contoh, dakwah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membutuhkan waktu kurang lebih 23 tahun, sebagaimana Allah menurunkan wahyu secara berangsur-angsur. Hal itu menunjukkan bahwa dakwah memerlukan waktu serta proses yang panjang.[8]







BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Sifat-sifat dasar dakwah tersebut merupakan sebuah pondasi dasar untuk menjadi seorang penda’i bagi orang-orang muslim yang telah mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi, terutama ilmu keislaman dan juga ilmu umum dan sudah memiliki kemampuan untuk menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat umum. Diantara sifat-sifat dakwah tersebut bertujuan agar seorang da’i bisa menghadapi mitra dakwahnya dengan menganut sifat-sifat tersebut sehingga diharapkan dapat merubah dan menambah keimanan mitra atau objek dakwahnya, sehingga dapat menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangan-larangannya.











DAFTAR PUSTAKA

Yafie, Ali. Dakwah Islam, Risalah, Bandung : 1989
http://tafsirq.com


[1] http://tafsirq.com/3-ar-rum/ayat-30, 13 nopember, pukul: 11.30
[2] Ali Yafie, Dakwah Islam, Risalah, Bandung : 1989
[3] http://tafsirq.com/7-al-araf/ayat-172, 13 nopember, pukul: 11. 42
[4] http://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-256, 13 nopember, pukul: 11. 45
[5] http://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-176, 13 nopember, pukul: 11.35
[6] Ali Yafie, Dakwah Islam, Risalah, Bandung : 1989

Tidak ada komentar:

Posting Komentar