Sabtu, 24 Desember 2016

FIQIH, Thoharoh









A.                THOHAROH (BERSUCI)

1.                  Pengertian thoharah
Thoharah adalah mengerjakaan hal-hal yang memperbolehkan seseorang untuk melakukan sholat atau ibadah lain yang pelaksanakannnya harus dalam keadaan suci.
2.                  Alat thoharoh
Sesuatu yang bisa digunakan (alat) untuk thoharoh adalah air atau debu.
3.                  Pembagian air
Air terbagi menjadi 4 (empat) macam, diantaranya :
a.         Air Thohir-Muthohir Ghoiru Makruh Isti’maluh/ air suci mensucikan yang tidak makruh digunakan untuk bersuci. Air ini juga disebut air mutlak, yaitu air yang tidak diqoyyidi (diberi status) secara permanen (menetap). Seperti: air laut,   air hujan, air sumber, air salju, dan lain-lain.
b.         Air Thohir-Muthohir Makruh Isti’maluh/ air suci dan mensucikan yang makruh untuk digunakan bersuci, yaitu air yang terkena sengatan (terpanaskan) oleh sinar matahari yang berada di dalam wadah yang terbuat dari logam selain emas dan perak. Hukum kemakruhan penggunaan air ini jika memang berada di daerah yang suhunya panas, digunakan dalam keadaan masih panas, masih mungkin untuk menggunakan air yang lain, dan tidak ada dampak negatif (menimbulkan bahaya) pada dirinya.
c.          Air Thohir-Ghoiru Muthohir/ suci tapi tidak bisa mensucikan adalah air yang telah digunakan untuk bersuci (musta’mal) dan air yang telah tercampur sesuatu yang suci yang sampai merubah dari status kemutlakan air.
Contoh : air kopi, air teh, air kembang mawar, dan lain-lain.
d.         Air Mutanajjis atau air yang terkena najis adalah air yang kurang dari dua qullah (maqolil) yang kemasukan najis walaupun tidak berubah, atau air yang lebih dari qullah namun telah mengalami perubahan pada salah satu dari ketiga sifatnya (warna, bau, rasa) walaupun perubahannya hanya sedikit.
Catatan:
Ukuran air 2 qullah adalah:
a.    174,480 liter,
b.    Air dalam satu wadah yang berbentuk persegi empat dengan ukuran panjang, lebar dan dalamnya 55,9 cm, atau
c.    Air dalam satu wadah yang berbentuk bundar seperti sumur dengan diameter dan kedalaman 44,72 cm.[1]

B.                 WUDHU’

1.                  Fardlu Wudhu’ada 6 (enam), diantaranya :
a.         Niat. Niat dilakukan ketika membasuh wajah. Yaitu bertepatan dengan permulaan jatuhnya air pada wajah.
Adapun niatnya sebagai berikut :

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلأَصْغَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَـالَى

“Nawaitul wudhuu-a lirof-’il hadatsil ashghori fardhol lillaahi ta’aalaa”

Artinya : “Saya berniat wudhu’ untuk menghilangkan hadats kecil fardholl lillaahi ta’aalaa.”
Selain dengan niat di atas, bisa juga dengan niat berwudhu’ agar diperbolehkan melaksanakan ibadah yang membutuhkan pada wudhu’, seperti :
نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لاِسْتِبَاحَـةِ الصَّلاَةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَـالَى
“Nawaitul wudhu-a listibaahatish sholaati fardhol lillaahi ta’aalaa.”

Artinya : “Saya berniat wudhu’ agar supaya  diperbolehkan untuk mengerjakan sholat fardholl lillaahi ta’aalaa.
Ataupun niat wudhu’ untuk fardhu wudhu` atau niat melaksanakan wudhu’, sebagaimana berikut :

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَـالَى

“Nawaitul wudhu-a fardhol lillaahi ta’aalaa.”
Artinya : “Saya berniat wudlu` lillaahi ta’aalaa.”
b.        Membasuh wajah. Batasan wajah secara vertikal adalah anggota diantara tempat tumbuhnya rambut kepala hingga dagu (janggut), sedangkan lebarnya adalah anggota diantara centil telinga kanan hingga centil telinga kiri.
c.         Membasuh tangan hingga siku-siku. Termasuk anggota (kulit) yang ada di bawah kuku.
d.        Mengusap sebagian kepala. Walaupun hanya sehelai rambut yang masih pada daerah kepala.
e.         Membasuh kaki hingga mata kaki.
f.         Tartib (berurutan). Yaitu mengerjakan rukun wudhu’ sesuai dengan urutan di atas.
2.         Kesunahan wudhu’ ada 10 (sepuluh), diantaranya:
a.         Membaca basmasalah.
b.        Membasuh kedua telapak tangan.
c.         Berkumur.
d.        Menghirup air dengan hidung.
e.         Mengusap seluruh bagian kepala (disaat mengusap sebagian wajah).
f.         Membasuh dua telinga (sebelum membasuh kaki).
g.        Menyela-nyelai jenggot yang tebal, dua jari tangan, dan kaki.
h.        Mengulang sebanyak 3 (tiga kali) setiap pekerjaan, baik basuhan ataupun usapan.
i.          Mendahulukan anggota bagian kanan daripada bagian kiri.
j.          Muwalah/ terus-menerus dalam melakukan semua pekerjaan, baik berupa rukun ataupun kesunnahannya.
3.                  Hal-hal yang membatalkan wudhu’ (hadats kecil) ada 5 (lima), diantaranya:
a.         Keluarnya segala sesuatu baik dari qubul (jalan depan) atau dubur (jalan belakang), kecuali air mani.
b.        Tidur yang tidak menetapkan pantatnya pada alas tidurnya.
c.         Hilangnya akal. Baik disebabkan mabuk, sakit, gila, epilepsy (ayan), pingsan, dan lain-lain.
d.        Bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom (orang yang haram untuk dinikahi) tanpa ada penghalangnya dan pada usia yang yang umumnya sudah dapat menimbulkan syahwat.
e.         Menyentuh qubul atau dubur dengan telapak tangan.
4.                  Kesalahan yang biasa terjadi dalam berwudlu, diantaranya :
a.         Percikan air dari bekas basuhan pertama salah satu anggota wudlu baik dari dirinya sendiri atau orang lain yang berada disampingnya hukumnya musta’mal.
b.     Tidak menghilangkan perkara yang menghalangi air pada anggota wudlu seperti pewarna kuku, bekas tip ex atau yang lainya.
5.                  Hal-hal yang diharamkan karena hadats kecil ada 4 (empat), diantaranya:
a.         Menyentuh al-Qur’an.
b.        Membawa al-Qur’an.
c.         Sholat.
d.        Thowaf.







C.                ISTINJA’ (CEBOK)

1.                  Alat istinja’
Alat istinja’ adalah air yang suci dan mensucikan, batu, kayu, kain, kertas, tisu, dan benda lain yang suci, keras, dapat menyerap, dan tidak muhtarom (dimuliakan), seperti makanan, dan lain-lain.
2.                  Tata cara istinja’ dengan selain air.
Adalah dengan usapan minimal tiga kali atau lebih pada tempat keluarnya najis hingga suci.
3.                  Syarat diperbolehkannya istinja’ dengan selain air ada 3 (tiga), diantaranya:
a.                   Najis yang keluar belum sampai kering.
b.                   Najis yang keluar belum berpindah dari tempatnya semula.
c.                   Najis yang keluar tersebut belum terkena najis yang lain.
Catatan :
Apabila ketiga syarat di atas tidak terpenuhi, maka wajib istinja’ dengan menggunakan air.

D.                MANDI


1.                  Pengertian mandi
Mandi adalah mengalirnya/ membasahinya air ke sekujur badan dengan niat tertentu.
Adapun niat mandi sebagai berikut:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلأَكْبَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَـالَى
Nawaitul ghusla lirof-‘il hadatsil akbari fardhol lillaahi   ta’aalaa “
artinya: “Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadats besar fardhol lillaahi ta’aala.”
Atau dengan niat:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْجَنَابَةِ فَرْضَا لِله تعالىُ
Nawaitul ghusla lirof-‘il jinaabati fardhol lillaahi ta’aalaa. “
Artinya: “Saya berniat mandi untuk menghilangkan jinabat  fardhol lillaahi ta’aala.”
Ataupun bisa juga dengan niat:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ اَلْمَفْرُوْضَـةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَـالَى
Nawaitul ghusla almafruudhoti fardhol lillaahi ta’aalaa “
Artinya : “Saya berniat mandi yang difardhukan fardhol lillaahi ta’aala.”
2.                  Fardhunya mandi ada 3 (tiga), diantaranya:
a.         Niat besertaan mengalirkan air pada anggota badan yang pertama kali dibasuh.
b.        Menghilangkan najis.
c.         Mengalirkan air ke seluruh tubuh, baik kulit maupun rambut.
Catatan :
Hal yang perlu diperhatikan dalam mandi adalah meratakan air pada seluruh anggota tubuh yang nampak dan untuk wanita agar memperhatikan untuk membasuh anggota bagian alat kelamin (vagina) yang nampak ketika duduk.

3.                  Kesunahaan mandi ada 5 (lima), diantaranya:
a.         Membaca basmalah.
b.        Wudhu’.
c.         Menggosok badan.
d.        Muwalah / terus-menerus dalam membasahi atau mengguyur aggota badan.
e.         Mendahulukan anggota kanan.

4.                  Hal-hal yang mewajibkan mandi ada 6 (enam), diantaranya:
a.         Bersetubuh walaupun tidak sampai keluar mani.
b.        Keluarnya sperma (mani), baik disengaja ataupun tidak. Seperti bermimpi, onani, melihat gambar porno, mengkhayal, dan lain-lain.
c.         Mati, kecuali mati syahid/ mati dalam medan perang membela agama, bayi lahir premature (lahir sebelum waktunya) dan mayat orang kafir.
d.        Haidh.
e.         Nifas.
f.         Wiladah / melahirkan.

5.                  Hal-hal yang diharamkan karena hadats besar ada  5 (lima), diantaranya :
a.         Menyentuh al-Qur’an/ membawa al-Qur’an.
b.        Membaca al-Qur’an.
c.         Sholat.
d.        Thowaf.
e.         Berdiam diri di dalam masjid.
Catatan :
Bagi perempuan yang haid/ nifas selain hal-hal di atas juga diharamkan puasa, lewat di masjid, dan bersetubuh.
6.                  Mandi yang disunahkan ada 17 (tujuh belas), diantaranya :
a.         Mandi Jum’at.
b.        Mandi ‘Idul Fitri.
c.         Mandi ‘Idul Adha.
d.        Mandi Istisqo’.
e.         Mandi gerhana bulan.
f.         Mandi gerhana matahari.
g.        Mandi setelah memandikan mayyit.
h.        Mandi setelah masuk Islam.
i.          Mandi setelah sembuh dari gila.
j.      Mandi setelah sembuh dari epilepsy.
k.    Mandi ketika akan ihram.
l.      Mandi ketika akan masuk kota Makkah.
m.  Mandi ketika menginap di Muzdalifah.
n.    Mandi ketika akan melempar Jumrah Shughro.
o.    Mandi ketika akan melempar Jumrah Wustho.
p.    Mandi ketika akan melempar Jumrah ‘Aqabah.
q.        Mandi ketika akan thowaf.

 

E.                 TAYAMMUM


1.                  Pengertian
Tayammum adalah memindahkan debu yang suci dan mensucikan pada wajah dan kedua tangan hingga sampai ke siku-siku sebagai pengganti wudhu’ dan mandi.
2.                  Syarat tayammum ada 5 (lima), diantaranya :
a.         Berhalangan (‘udzur) untuk menggunakan air, baik dikarenakan sakit atau dalam perjalanan.
b.        Sudah masuk waktu sholat.
c.         Mencari air setalah masuknya waktu sholat.
d.        Adanya kekhawatiran, baik pada keselamatan jiwanya atau hartanya, jika menggunakan air.
e.         Menggunakan debu yang kering dan suci mensucikan.
3.                  Fardhunya tayammum ada 4 (empat), diantaranya :
a.         Niat tayammum, dilakukan ketika memukulkan kedua telapak tangan pada debu sampai kedua tangan mengusap wajah.
Adapun niatnya adalah :

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لاِسْتِبَاحَةِ مُفْتَقِرٍّ إِلَى طُهْرٍ لِلَّهِ تَعَالىَ

Nawaitut tayammuma listibaahati muftaqirrin ila tuhrin lillaahi ta’aala .“
Artinya : “Saya berniat tayammum agar diperbolehkan melakukan hal-hal yang membutuhkan suci dari hadats  lillahi ta’ala.”
Atau dapat juga dengan niat :

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لاِسْتِبَاحَةِ الصَّلاَةِ لِلَّهِ تَعَالىَ

Nawaitut tayammuma listibaahatis sholaati lillaahi ta’aala.

Artinya : “Saya berniat tayammum agar di perbolehkan Sholat  lillahi ta’ala.”
b.         Mengusapkan debu ke wajah.
c.         Mengusapkan debu ke kedua tangan sampai   siku-siku.
d.        Tartib (berurutan).
4.  Kesunnahan tayammum ada 4 (empat), diantaranya :
a.         Membaca basmalah.
b.         Mendahulukan tangan kanan ketika mengusap.
c.         Muwalah / terus-menerus.
d.        Melepaskan cincin pada tepukan tangan yang pertama. Sedangkan pada tepukan tangan yang kedua hukumnya adalah wajib.
5.                  Hal-hal yang membatalkan tayammum ada 3 (tiga), diantaranya :
a.         Setiap hal yang membatallkan wudlu`.
b.        Menemukan air sebelum mengerjakan sholat, kecuali tayammum yang dilakukan karena bepergian atau sakit, maka tayammumnya tidak batal. Bagi orang yang sakit tayammumnya juga ias batal, apabila ia sembuh sebelum ia mengerjakan sholat.
c.         Murtad  (keluar dari islam).
Catatan :
§   Apabila pada salah satu anggota wudlu` terdapat luka yang membahayakan jika terkena air, maka wajib untuk bertayammum dan membasuh anggota yang sehat. Tayammum tersebut              dilakukan ketika proses wudlu` telah sampai pada anggota wudlu` yang terkena luka.
§   Orang yang diperban / plaster / gip, ketika bersuci dia wajib mengusapnya dengan air sebagai pengganti dari anggota yang sehat yang tertutup dan wajib melakukan tayammum sebagai pengganti dari anggota yang luka ( tidak terbasuh oleh air ).
§   Satu kali tayammum hanya diperbolehkan untuk melakukan satu sholat fardlu dan  beberapa kesunnahan ( yang jumlahnya tidak terbatas ).

 


F.                 NAJIS


1.                  Pengertian najis
Najis adalah sesuatu yang haram untuk dipergunakan secara mutlak dalam keadaan normal (bukan darurat) dan mudah untuk dipisahkan / dibedakan.
2.                  Pembagian najis
Di tinjau dari statusnya najis terbagi menjadi 3 macam :
1.    Najis mukhofafah / ringan, adalah air kencingnya bayi laki-laki yang belum berumur 2 (dua) tahun dan belum mengkonsumsi selain ASI, cara mensucikannya cukup dengan mengguyurkan air walaupun tidak sampai mengalir.
2.    Najis mutawasithoh / tengah-tengah adalah najisnya darah, nanah, arak, air kencing, kotoran, bangkai selain bangkai ikan dan belalang, cara mensucikannya dengan mengguyurkan air hingga mengalir sampai hilang sifat-sifat najis, yakni : bau, rasa, dan warna.
3.    Najis mugholladhoh/berat, adalah najisnya anjing, babi serta keturunannya, cara mensucikannya dengan membasuh 7 (tujuh) kali yang salah satunya harus dicampur dengan debu yang suci dan mensucikan.
Ditinjau dari bentuknya, najis mutawssithoh terbagi menjadi 2 (dua):
1.    Najis ‘ainiyyah adalah najis mutawassithoh yang masih terdapat salah satu dari sifat-sifatnya: warna, rasa, atau bau, cara mensucikannya dengan membasuh/mencucinya hingga hilang sifat-sifatnya.
2.    Najis hukmiyyah adalah najis yang sudah tidak terdapat sifat-sifatnya.
Cara mensucikannya cukup dengan mengguyurkan air hingga merata.
3.                  Penggunaan air.
Air yang digunakan untuk mensucikan ada dua :
a.       Kurang dari dua kulah, maka dengan cara mengguyurkanya pada sesuatu yang terkena najis.
b.    Dua kulah atau lebih, maka bisa dengan cara mengguyurkan air atau memasukkan sesuatu yang terkena najis  pada air, selama air tidak berubah.
4.                  Contoh cara menghilangkan najis.
Contoh pertama : Kotoran ayam di lantai masjid.
Caranya : Dengan menghilangkan sifat-sifat najis dengan semisal kulit kelapa, setelah itu mengalirkan air pada lantai sampai merata.
Contoh kedua : Baju terkena jilatan anjing.
Caranya : Menyediakan air yang dicampur dengan debu, lalu tempat jilatan dibasuh dengan air tersebut sampai merata, kemudian dibasuh dengan air suci sebanyak enam kali.                                                                                                                                                                                                                                                               
Contoh ketiga : Kotoran babi di atas lantai.
Caranya : Menyediakan air yang dicampur dengan debu, lalu menghilangkan kotoran dan sifat-sifatnya, lantas tempat kotoran dibasuh dengan air tersebut sampai merata, kemudian dibasuh dengan air suci sebanyak enam kali.


[1] Muhammad Ma’shum bin Ali, Fath al-Qadir, tt, Surabaya: Maktabah Muhammad bin Ahmad Nabhan wa Auladih, hlm. 3 & 10 dan Zainuddin al-Malibari, “Fath al-Mu’in”, juz I, hlm. 41-41. CD al-Maktabah asy-Syamilah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar